Jumat, 03 Januari 2014

Bong's Corner - Family project

Tahun 2014 ini bakal menjadi tahun yang sibuk banget buat gw. Selain Desadeso, Ini dia proyek gw lainnya, namanya Bong's Corner. Berbeda 180 derajat dengan desadeso, Bong's Corner merupakan sebuah usaha kuliner keluarga, yang menu utamanya adalah ayam panggang dengan saos sambal yang khas.  Konsep Bong's Corner adalah fast food restaurant, tapi bedanya adalah produk yang kami tawarkan lebih sehat karena tidak ada satu jenis makanan dalam menu kami yang digoreng. Tapi soal rasa, saya jamin tidak akan mengecewakan, karena resep yang kami punya sudah berumur ratusan tahun, turun temurun dari buyut kami. Coba saja sendiri kalau ga percaya..

Bong's Corner sudah didirikan sejak 1970 oleh oma-opa saya, dengan bantuan tante-om saya. Dengan hanya berjualnya di PRJ/Jakarta Fair, dagangan kami boleh dibilang cukup laku, dengan omset sehari bisa 10 juta. Tetapi karena om-tante saya pergi studi ke luar negeri, jadinya usaha tersebut gak ada yang ngurus, dan tahun 1980an terpaksa kami tidak berjualan lagi. Sejak saat itu kami belum cukup aktif lagi karena keterbatasan tenaga dan waktu. Jadi akhirnya karena saya telah balik pulang dari studi dan kerja di Belanda untuk memulai entrepreneur journey saya, saya putuskan untuk mengambil inisiatif membangun bisnis ini.

Setelah 1 bulan mencari-cari tempat untuk berjualan, maka akhirnya ketemu deh tempat di jembatan ITC kuningan lantai 4, no 59J. Perhitungan saya adalah sewa tempat yang cukup murah 30 juta per tahun, traffic yang cukup tinggi, dan lokasi yang strategis di daerah Kuningan di Jakarta. Walaupun tempatnya relatif kecil dan tidak berada di jalan utama, tapi menurut saya karena letaknya ditusuk sate, jadi tidak apa-apa.

Ternyata banyak banget hal-hal yang musti disiapkan untuk membangun restaurant, mulai dari peralatan makan, peralatan dapur, renovasi tempat, dan orang2 yang akan bekerja. Yang terakhir ini menurut saya adalah yang paling susah dan krusial, karena saya percaya business is about managing people. Saya juga melihat mereka sebagai partner bisnis saya, dan saya juga harus menginvestasikan waktu dan uang saya ke mereka juga. How do I create a win-win situation between me and the employees? that's the biggest question of being entrepreneur.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar