Usaha pertama, di dunia bisnis yang baru, ternyata membuat gw cukup kewalahan. gw sih awal2nya simpel aja, jual cukup dengan menu unggulan ayam panggang dengan sambel tauco khasnya.. ngarep2 kayak KFC gitu lah, jualan ayam goreng doang, udah bisa laku.. tapi ternyata 1 bulan pertama ini hasil penjualannya sehari bisa cuman dapet 300-400rb, dimana untuk nutup modal perhari gw musti punya omzet 1 juta. Beban jadi semakin berat karena ini bisnis keluarga, jadi gw ga enak menyeret keluarga gw jadi ikutan pusing juga.
Oke, berarti musti ada yang di perbaiki bisnis kuliner ini. Feedback dari konsumen adalah sumber inspirasi gw. Selama ini dari mereka banyak yang nanya: "ada menu lainnya atau sayurannya mas?", atau, "mas, ayamnya enak sih, tapi tempatnya rada terpencil gini yah?".
Mungkin gw harus nambah menu, tapi tetep ga sembarang menu. Sudah banyak desakan secara langsung dari tante dan nyokap gw, kalo musti ditambahin makanan seperti telor belado, sayur asem, tumis kangkung, dll. Gw ga tau mereka bener apa salah, tapi sejujurnya gw punya pemikiran berbeda. Restoran gw harus menciptakan suatu nilai yang unik, yang memberikan identitas restoran gw dibanding restoran2 lainnya. Selama ini makanan di restoran gw ga melalui proses penggorengan, jadi mungkin itu yang harus diterapkan ke semua jenis makanan.
Hal pertama yang gw pikirkan adalah jenis ayam panggang yang berbeda, bukan yang itu2 saja. Gw udah eksperimen ayam panggang madu dan ayam panggang kopi. Menurut gw sih dua2nya menarik ya, tapi rasanya masih perlu dimodifikasi lagi. Terus soal sayuran, mungkin gw akan menyajikan sayuran rebus, seperti bayam rebus, acar wortel (mirip seperti di hokben), atau sejenis sayuran lainnya. Kriterianya cuma 1, sayurannya harus bisa tahan lama agar ga banyak yang kebuang kalo ga laku.
Mari kita lihat gimana hasil dari modifikasi yang gw lakukan, dalam 1 bulan ke depan. mudah2an menghasilkan perubahan..
Jumat, 21 Maret 2014
Jumat, 03 Januari 2014
Bong's Corner - Family project
Tahun 2014 ini bakal menjadi tahun yang sibuk banget buat gw. Selain Desadeso, Ini dia proyek gw lainnya, namanya Bong's Corner. Berbeda 180 derajat dengan desadeso, Bong's Corner merupakan sebuah usaha kuliner keluarga, yang menu utamanya adalah ayam panggang dengan saos sambal yang khas. Konsep Bong's Corner adalah fast food restaurant, tapi bedanya adalah produk yang kami tawarkan lebih sehat karena tidak ada satu jenis makanan dalam menu kami yang digoreng. Tapi soal rasa, saya jamin tidak akan mengecewakan, karena resep yang kami punya sudah berumur ratusan tahun, turun temurun dari buyut kami. Coba saja sendiri kalau ga percaya..
Bong's Corner sudah didirikan sejak 1970 oleh oma-opa saya, dengan bantuan tante-om saya. Dengan hanya berjualnya di PRJ/Jakarta Fair, dagangan kami boleh dibilang cukup laku, dengan omset sehari bisa 10 juta. Tetapi karena om-tante saya pergi studi ke luar negeri, jadinya usaha tersebut gak ada yang ngurus, dan tahun 1980an terpaksa kami tidak berjualan lagi. Sejak saat itu kami belum cukup aktif lagi karena keterbatasan tenaga dan waktu. Jadi akhirnya karena saya telah balik pulang dari studi dan kerja di Belanda untuk memulai entrepreneur journey saya, saya putuskan untuk mengambil inisiatif membangun bisnis ini.
Setelah 1 bulan mencari-cari tempat untuk berjualan, maka akhirnya ketemu deh tempat di jembatan ITC kuningan lantai 4, no 59J. Perhitungan saya adalah sewa tempat yang cukup murah 30 juta per tahun, traffic yang cukup tinggi, dan lokasi yang strategis di daerah Kuningan di Jakarta. Walaupun tempatnya relatif kecil dan tidak berada di jalan utama, tapi menurut saya karena letaknya ditusuk sate, jadi tidak apa-apa.
Ternyata banyak banget hal-hal yang musti disiapkan untuk membangun restaurant, mulai dari peralatan makan, peralatan dapur, renovasi tempat, dan orang2 yang akan bekerja. Yang terakhir ini menurut saya adalah yang paling susah dan krusial, karena saya percaya business is about managing people. Saya juga melihat mereka sebagai partner bisnis saya, dan saya juga harus menginvestasikan waktu dan uang saya ke mereka juga. How do I create a win-win situation between me and the employees? that's the biggest question of being entrepreneur.
Bong's Corner sudah didirikan sejak 1970 oleh oma-opa saya, dengan bantuan tante-om saya. Dengan hanya berjualnya di PRJ/Jakarta Fair, dagangan kami boleh dibilang cukup laku, dengan omset sehari bisa 10 juta. Tetapi karena om-tante saya pergi studi ke luar negeri, jadinya usaha tersebut gak ada yang ngurus, dan tahun 1980an terpaksa kami tidak berjualan lagi. Sejak saat itu kami belum cukup aktif lagi karena keterbatasan tenaga dan waktu. Jadi akhirnya karena saya telah balik pulang dari studi dan kerja di Belanda untuk memulai entrepreneur journey saya, saya putuskan untuk mengambil inisiatif membangun bisnis ini.
Setelah 1 bulan mencari-cari tempat untuk berjualan, maka akhirnya ketemu deh tempat di jembatan ITC kuningan lantai 4, no 59J. Perhitungan saya adalah sewa tempat yang cukup murah 30 juta per tahun, traffic yang cukup tinggi, dan lokasi yang strategis di daerah Kuningan di Jakarta. Walaupun tempatnya relatif kecil dan tidak berada di jalan utama, tapi menurut saya karena letaknya ditusuk sate, jadi tidak apa-apa.
Ternyata banyak banget hal-hal yang musti disiapkan untuk membangun restaurant, mulai dari peralatan makan, peralatan dapur, renovasi tempat, dan orang2 yang akan bekerja. Yang terakhir ini menurut saya adalah yang paling susah dan krusial, karena saya percaya business is about managing people. Saya juga melihat mereka sebagai partner bisnis saya, dan saya juga harus menginvestasikan waktu dan uang saya ke mereka juga. How do I create a win-win situation between me and the employees? that's the biggest question of being entrepreneur.
First post ~ Desadeso
First post ~
Perkenalkan nama saya Kevin, asli Jakarta, 25 tahun, single, dan berobsesi jadi wirausahawan.Itulah gw, yang mempunyai cita-cita jadi salah satu dari Time 100 dari Indonesia. Gw orang yang haus dalam memberikan kontribusi terhadap dunia ini.
Untuk itu mencapainya, gw lagi sibuk ngerjain satu projek : Desadeso, online website reservation service yang membantu para traveler berwisata ke desa. Jadi dengan mengunjungi website ini, travelers bisa lihat berbagai macam desa yang Desadeso tawarkan, dan langsung membooking trip ke desa yang mereka sukai. Gw ngerasa ide ini sangat nobel, karena dengan mengembangkan desa wisata, orang desa bisa buat sustainable business dan mempunyai hidup yang baik tanpa harus pindah ke kota. Sebenernya sampai tahun 2013 sudah ada 1.245 desa wisata di Indonesia, tapi sayangnya mereka kurang dapat berkembang karena keterbatasan kualitas SDM dan biaya promosi yang mahal. Makanya dengan adanya proyek Desadeso ini, kami dapat membantu mempromosikan desa wisata yang sudah berkembang, dan juga membantu desa2 dari proses booking trip sampai pembayaran.
Walaupun mungkin ide Desadeso sangat menarik, tapi banyak juga tantangan-tantangan yang kami hadapi, dari sisi tim, desa wisata, maupun customer.
Perkenalkan nama saya Kevin, asli Jakarta, 25 tahun, single, dan berobsesi jadi wirausahawan.Itulah gw, yang mempunyai cita-cita jadi salah satu dari Time 100 dari Indonesia. Gw orang yang haus dalam memberikan kontribusi terhadap dunia ini.
Untuk itu mencapainya, gw lagi sibuk ngerjain satu projek : Desadeso, online website reservation service yang membantu para traveler berwisata ke desa. Jadi dengan mengunjungi website ini, travelers bisa lihat berbagai macam desa yang Desadeso tawarkan, dan langsung membooking trip ke desa yang mereka sukai. Gw ngerasa ide ini sangat nobel, karena dengan mengembangkan desa wisata, orang desa bisa buat sustainable business dan mempunyai hidup yang baik tanpa harus pindah ke kota. Sebenernya sampai tahun 2013 sudah ada 1.245 desa wisata di Indonesia, tapi sayangnya mereka kurang dapat berkembang karena keterbatasan kualitas SDM dan biaya promosi yang mahal. Makanya dengan adanya proyek Desadeso ini, kami dapat membantu mempromosikan desa wisata yang sudah berkembang, dan juga membantu desa2 dari proses booking trip sampai pembayaran.
Walaupun mungkin ide Desadeso sangat menarik, tapi banyak juga tantangan-tantangan yang kami hadapi, dari sisi tim, desa wisata, maupun customer.
- Dari sisi tim, tim kami yang berisi 3 orang masih sibuk-sibuk sendiri dengan kehidupan pribadi dan keluarga masing-masing. Cuma saya yang belum punya tanggungan keluarga, sehingga waktu yang saya punya untuk diluangkan ke Desadeso bisa lebih banyak. Menurut saya, tim kami harus meluangkan lebih banyak waktu untuk bekerja bersama-sama agar dapat berkomunikasi lebih aktif lagi. Belum lagi keterbatasan biaya yang kami hadapi, karena untuk mengunjungi dan menginspeksi desa-desa yang mau dijadikan partner kami, juga butuh biaya yang tidak sedikit. Kemarin saya hitung2, sekali jalan bisa habis 300rb termasuk biaya bensin, dan makan. Kalau misalnya kami harus menginap mungkin biayanya bisa jadi 700rb.
- Dari sisi desanya, bagi kami sangat sulit sekarang ini untuk mencari partner desa yang sesuai. Kendala utamanya adalah akses transportasi dan kesulitan komunikasi. Akses menuju ke lokasi terbilang cukup menantang karena jalanan yang sempit dan berlubang2. Belum lagi kesulitan dalam hal komunikasi untuk follow up dengan desa. Cukup banyak saya kirim email dan telpon orang perwakilan dari mereka, tapi sering kali gak dibales/gak ditanggepin.
- Dari sisi customernya, sampai saat ini kami masih struggling dalam hal distribusi channel paket wisata kami. Saya rasa ini PR kami sebagai tim, kami harus lebih bnyak meluangkan waktu untuk mendekati potential customer kami.
Target kami sekarang ini adalah dengan melobi pemerintahan supaya kami juga terbantu dalam hal mempromosikan desadeso ke pihak desa wisata maupun potential client kami. Kami sadar bahwa jika kami bekerja sendiri2 tanpa bantuan dari pihak ketiga, jalan yang harus kami tempuh begitu sulit, apa lagi dengan keterbatasan waktu dan finansial kami..
Desadeso telah berdiri sejak October 2013, dan ini hanya permulaan. Kami yakin tahun 2014 akan menjadi tahun yang lebih baik. Saya percaya, good things will come for those who believe and work on it.
Langganan:
Postingan (Atom)